Latest Post
Showing posts with label Kongres Kerakyatan XVIII GmnI. Show all posts
Showing posts with label Kongres Kerakyatan XVIII GmnI. Show all posts
Ziarah di Makam Bung Karno, Wujud Kerukunan Beragama di Indonesia
Written By Unknown on Thursday, June 6, 2013 | 3:18 AM
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider
Kongres GmnI Diwarnai Aksi Protes, Ditengah - Tengah Warga Blitar
suaramarhaen.com, Blitar. Hari ke lima dalam jadwal
Kongres GmnI (5/6) membahas mengenai calon bakal tempat kongres dan rakornas
berikutnya. Dalam perjalanan sidang, beberapa peserta yang beragama muslim
meminta sidang di skors. Namun terjadi pro-kotra atara peserta sidag lainnya. Beberapa
peserta mengatakan pimpinan sidang terkesan tarik ulur. Walau akhirya pimpinan
sidang memberikan skors namum panitia lokal tidak memberikan akses keluar
kepada peserta dan meminta peserta untuk sholat di tempat yang telah di
persiapkan. Karena itulah beberapa delegasi mulai ribut dan meminta akses untuk
keluar.
Sedangkan diluar, mulai pukul
19.00 WIB areal Istana Gebang Mulai dipadati warga blitar dan sekitarnya untuk
meyaksikan pagelaran wayang kulit Ki Koeswono. Warga juga mulai menunggu di
depan Gerbang masuk arena Kongres. Beberapa kader GmnI yang di luar dan
mendengar keadaan di dalam mulai mencoba untuk masuk. Mereka melihat ada
ketidak konsitenan panitia. Karena untuk masuk ke area sidang perlu “ID” card,
dan peserta telah ditentukan. Namun beberapa kader yang diluar melihat banyak
orang didalam yang tidak menggunakan tanda pengenal serta panitia lokal dan
polisi bebas keluar masuk. Sedangkan kader GmnI sendiri tidak diijinkan untuk
masuk. Terjadi keributan dengan panitia lokal dengan 'rombongan liar' kader
GmnI yang mengakibatkan aksi dorong-dorongan.
Kader GmnI yang melakukan aksi
protes juga meneriakan penolakan terhadap kosepsi Empat Pilar berbangsa. “malu
kita dirumah bung Karno membahas tentang empat Pilar” teriak salah seorang
kader di tengah aksi. Empat pilar tidak sesuai dengan spirit perjuangan dan ideologi
bagsa karena menempatka Pancasila sejajar dengan tiga Pilar lainnya,
diantaranya Bhineka Tunggal ika da NKRI. Pancasila itu dasar NegaraFilosofi
Negara Indonesia. “Philosofische grondslag itulah fondamen,
filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya
untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi” kutipan pidato 1 juni bung Karno saat
mencetuskan Pancasila sebagai filosofi bangsa. Itulah
dasar mengapa empat pilar diprotes oleh kader GmnI.
Kader yang diluar mencoba untuk
mematikan jenzet yang ada diluar arena kongres agar persidangan bisa
dihentikan. panitia yang melihat mencoba menggagalkan dengan melempar batu yang
mengakibatkan aksi saling lempar antara panitia dan kader.
Beberapa kader yang ikut dalam aksi tersebut diantaranya berasal dari Medan, jakarta, bandung, malang, malang raya, surabaya, balikpapan, palangkaraya, dll.
"Malu sebenarnya karena itu rumah bung karno. Tpi ketika ada ketidakadilan, maka tetap kita harus berontak." Ujar salah satu kader yang tidak ingin disebutkan namanya.
Beberapa kader yang ikut dalam aksi tersebut diantaranya berasal dari Medan, jakarta, bandung, malang, malang raya, surabaya, balikpapan, palangkaraya, dll.
"Malu sebenarnya karena itu rumah bung karno. Tpi ketika ada ketidakadilan, maka tetap kita harus berontak." Ujar salah satu kader yang tidak ingin disebutkan namanya.
Beberapa warga yang melihat
kejadian tersebut mengaku kecewa terhadap sikap mahasiswa. "Yah, niatnya
nonton wayang kok malah ada mahasiswa ribut-ribut. Malu lah seharusnya mereka
berbuat seperti itu di tanah bung karno." Kata warga yang sedang berbincang-bincang. (nna)
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider
Bulan Juni, Berkah Buat Pedagang Oleh – oleh Kota Blitar
Written By Unknown on Tuesday, June 4, 2013 | 1:15 AM
suaramarhaen.com, Blitar.Bulan Juni juga menjadi berkah tersendiri bagi pedagang oleh-oleh yang ada di kota
Blitar. Selain meningkatnya jumlah peziarah di makan Bung Karno juga
diselenggarakan beberaparangkaian acara di bulan Juni tahun ini. Dimulai dari Grebeg
Pancasila, peringatan lahirnya Bung Karno dan haul karno Bung yang semakin
meramaikan kunjungan di Kota Blitar.
Berdasarkan pantauan tim redaksi suaramarhaen.com hampir
semua jenis oleh-oleh dari Blitar berupa pasar tradisional. Selainpasar kios
kios masyarakat di sekitaran jalan Ir. Soekarno juga dijajakan oleh oleh khas
Blitar seperti,kaos, pernak pernik dan
batik. Menurut Ibu Nining salah seorang pedadang kaos di pasar oleh oleh dekat
makam bung Karno, hampir setiap hari dipadati pengunjung baik dari Blitar
maupun luar kota. Dengan meningkatnya kunjungan maka pendapatan pedagang
oleh-oleh di blitar juga meningkat.
Ibu nining yang sudah berjualan sejak lulus SMA ini menuturkan, kaos bergambar Bung Karno
paling laris diburu oleh pengunjung.harganya pun bervariasi, untuk kaos dewasa
berkisar antara Rp.35.000-Rp.45.000, cukup terjangkau untukmasyarakat dan
kantong mahasiswa. “kaos bergambar bung karno paling lahir, selain itu
gantungan kunci bergambar bung karno juga diminati oleh pengunjung yang hadir’
ujar bu nining di sela kesibukannya berjualan.
Eksistensi pasar tradisional sangat baik di Blitar, hamper
tidak ditemui pasar modern yang menjual oleh-oleh. Semua dikelola oleh
masyarakat yang didukung oleh pemerintah
daerah. Indomaret, Alfamart dan toko
modern sejenis hanya ada beberapa dan itupun jauh dari pasar tradisional. Hal
ini membawa keuntungan tersendiri bagi masyarakat, mengelola potensi pariwisata
dengan mandiri. Lapangan pekerjaan tersedia luas dan masyarakat mampu
berdikari. Kebijakan pemerintah yang sangat mendukung majunya ekonomi kerakyatan dengan
mengeluarkan perda no Perda No 11 Tahun 2012 tentang pasar desa sehingga kapitalisasi dengan penguasaan sector ekonomi
oleh pemodal bisa di minimalisasi. Perekonomian sepernuhnya dikuasai oleh
rakyat. Trisakti, ajaran bung karno sangat di terapkan di kota ini. Tidak hanya
oleh pemerintahan, menjelang bulan Juni di beberapa sudut pasar juga terdengar
obrolan tentang bung Karno. Selain figur juga ajaran yang mendarah daging di
hati masyarakat. (KD)
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider
"Sarinah"Awal Kebudayaan Manusia
suaramarhaen.com, Blitar. Sarinah, sosok perempuan yang menjadi simbol dari perempuan
Indonesia. Dia bersaudara kembar, yaitu sarinah dan sainah. Sarinah sendiri
adalah pengasuh Bung Karno dan sainah adalah juru masak keluarga Bung Karno.
Perempuan dan laki-laku bagai sayap burung, jika satunya tidak ada, maka burung
itu tidak bisa terbang. Itu sepenggal kalimat yg tertulis di Buku Sarinah,
salah satu karya bung Karno yang menceritakan tentang perempuan dan pergerakan.
Perempuan itu wadah, bisa menampung segala sesuatu.
Per-empu-an, empu seorang yang ahli.
Pada dasarnya perempuan lebih cerdas dari laki-laki. "Kebudayaan lahir dr
perempuan, membuat keluarga menikmati rasa "enak". Membuat bumbu.
Selain itu perempuan juga melahirkan kebudayaan bercocok tanam" ujar Pak Bambang Mardiyono saat bercerita di Istana Gebang, rumah Bung Karno (4/6).
Laki-laki pergi berburu, mengumpulkan bahan makanan. Dan
perempuan yang mengolahnya. Dari sanalah. Ketika kaum laki pergi berburu disana
perempuan mulai menanam benih tanaman. Kebudayaan itu lahir dan berakar dari
bercocok tanam atau agraris.
Lebih lanjut beliau yg akrab dipanggi Pak Gudel itu
bercerita. Blitar adalah tempat yang berkharisma. Tungku, api dan abu
perjuangan bangsa dan peradaban nusantara ada di Blitar. Istana Gebang adalah
Tungku perjuangan, lahirnya seorang putra Bangsa yang membawa Indonesia menuju
pintu gerbang kemerdekaan. Perpustakaan Bung Karno di blitar adalah api
perjuangan. Disana tersimpan pemikiran-pemikiran Bung Karno untuk Bangsa
Indonesia. Makam Bung Karno adalah abu dari perjuangan Indonesia. "Tak ada
artinya berziarah ke makam Bung Karno jika tidak mendalami pemikirannya. Warisi
apinya bukan abunya" ujar Pak
Gudel. "Sarinah, Siapa yang anti Indonesia akan hancur" tutupnya
sambil berfoto bersama di ruang tamu istana Gebang.
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider
“Istana Gebang” Spirit Perjuangan Bung Karno
Written By Unknown on Sunday, June 2, 2013 | 12:29 PM
suaramarhaen.com, Blitar. Tempat tinggal orang tua Bung
Karno yang terletak di Jalan Sultan Agung No 59, Sananwetan - Blitar atau yang
terkenal dengan sebutan Istanah Gebang hari ini (2/6) tampak sangat ramai.
Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) tampak memenuhi areal
sekitarnya. Sebelum agenda Kongres di mulai, beberapa kader yang bukan delegasi
Kongres menyempatkan diri memperdalam sejarah mengenai Istanah Gebang ini.
Ditemani oleh pak Bambang
Mardiyono yang ditunjuk sebagai salah satu pengelola tempat tersebut beberapa
kader GmnI tampak menyimak sejarah
mengenai Bung Karno. Bapak yang akrab di panggil Mbah Gudel ini bercerita bahwa
Ayahanda Bung Karno pada tahun 1884 membeli Rumah itu dari seorang Belanda yang
bekerja sebagai pegawai kereta api . Bung Karno sendiri tidak memiliki waktu
yang lama tinggal di rumah tersebut. Hanya ketika liburan sekolah padamasa
remajanya dan ketika telah menjadi presiden hanya datang ketika menengok
Ibundanya.
Rumah ini ditetapkan sebagai museum
dan dikelola oleh pemerintah kota sejak 7 Januari 2012 setelah sebelumnya
merupakan sebuah cagar budaya yang dikelola oleh keluarga Bu Sukarmini. Sempat
sebelum ditetapkan sebagai Museum pihak keluarga berkeinginan menjual rumah
tersebut kepada pihak swasta. Namun karena statusnya sebagai Cagar Budaya tentu
akan menyalahi Undang-Undang Cagar Budaya maka rumah tersebut hanya dapat
dijual ke Pemerintah.
Menurut cerita Mbah Gudel, tidak
banyak kejadian penting yang terjadi di Istana Gebang. Hanya saja rumah itu
seolah memiliki kesakralan sendiri karena dari sana terlahir tokoh besar
seperti Bung Karno. Beberapa masyarakat juga mempercayai kesakralan area Istana
tersebut. Seperti dengan air dari Sumur Tua
yang dipercayai dapat menyembuhkan penyakit hingga api dari tungku
dapur.Di halaman belakang rumah tersebut dulu Supriyadi menemui Bung Karno
untuk mengatakan bahwa pemuda ingin memberontak Jepang. Di Istana itu juga Bung
Karno pernah menjadi dalang dalam pagelaran wayang kulit. Rumah tersebut juga
dikatakan sebagai pemersatu Bangsa. Karena dulu Bung Karno pernah mempertemukan
tokoh dari sabang sampai merauke dalam suatu acara.
“Saya harap dari dilaksanakannya
Kongres GmnI XVIII di Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja ini adik-adik GmnI dapat
tetap menghadirkan spirit dari Perjuangan Bung karno dulu dan bisa berbuat
untuk Bangsa dan Negara Indonesia ini” Ujar Mbah Gudel diakhir ceritanya.(nna)
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider
Pembukaan Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
Written By Unknown on Saturday, June 1, 2013 | 10:32 AM
Anak Rakyat, Dari
Rakyat Untuk Amanat Penderitaan Rakyat
Suaramarhaen.com, Blitar. Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia (GmnI) melaksanakan Kongres pada 1-5 Juni 2013. Kongres ke-XVIII ini bertempat di Blitar yang
sudah dimandatkan sebelumnya dalam Kongres di Balikpapan.
“Dikatakan Kongres Kerakyatan untuk merumuskan keinginan
kawan-kawan blitar yang ingin agar Kongres di Bumi Bung Karno ini berbeda dari kongres
sebelumnya. Senada dengan apa yang diamanatkan Bung Karno dalam konverensi
besar GmnI di Kaliurang dalam pidatonya agar mahasiswa dapat duduk bersama-sama
dengan rakyat” Ujar Bernad Ketua Badan Pekerja Kongres XVIII GmnI ketika
ditemui usai acara pembukaan. Melihat situasi kebangsaan kita yang belakangan
ini berada pada tahap titik degradasi moral yang semakin rendah. Dimana moral
anak bangsa harus segera dibenahi. Penemuan kembali semangat kebangsaan yang
semakin menipis.
Agenda Kongres anak rakyat, dari rakyat untuk amanat
penderitaan rakyat adalah Persidangan pengesahan peserta, jadwal dan tata
tertib sampai dengan pemilihan Presidium yang baru. Kemudian ada juga persidangan
komisi yang akan membahas permasalahan politik, program-program, dan organisasi
di GmnI.
Dalam Kongres kali ini, dipersembahkan hasil gotong royong beberapa
seniman dari Kota Blitar yaitu Lukisan Bung Karno terbesar di dunia. Dan
dimeriahkan dengan pasar murah serta festival hiburan rakyat.
Pada pembukaan diundang pemerintah Provinsi Jawa Timur,
Pemerintah Kabupaten Blitar, pemerintah Kota Blitar, Pengurus kota alumni GmnI,
masyarakat kota Blitar dan sekitarnya. Sedangkan peserta Kongres yang terdaftar
hingga 1 juni ada 90 cabang dari 112 cabang yang mengirimkan 3 orang delegasi.
Sedangkan ada beberapa kader yang bukan delegasi juga hadir untuk meramaikan
kongres.
Acara pembukaan Kongres Kerakyatan GmnI ini di buka oleh Dr. H. Soekarwo, S.H, M.Hum,
Gubernur Jawa Timur yang juga merupakan Ketua Persatuan Alumni GmnI Pusat.
Dalam sambutannya Gubernur yang akrab dipanggil Pak De Karwo ini berpesan agar
hasil Kongres bukan merupakan suara liberal melainkan benar-benar hasil
Musyawarah Mufakat. “Capai musyawarah mufakat sesuai dengan pancasila. Bukan
dengan suara terbanyak. Masak 1 orang waras harus tunduk pada 9 orang gila” Ungkap
beliau. (nna)
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider
Modernisasi GmnI, Penguatan Idiologi Marhaenisme
Pembukaan Kongres Kerakyatan XVIII gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
suaramarhaen.com, Blitar. Gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GmnI) merupakan salah satu
organisasi basis Nasionalis yang beridiologikan Marhaenisme. Organisasi
mahasiswa yang terbentuk pada tahun 1959 silam telah melahirkan banyak pemimpin
di Indonesia. Pejuang Pemikir - Pemikir Pejuang moto dalam gerakan untuk menuju
sosialisme Indonesia.
Menurut Twedy Noviadi Ginting, Ketua Presidium Pusat GmnI, 1
Juni 2013 momentum untuk mengembalikan GmnI kepada filosofi dasar organisasi.
"Kami ingin mengembalikan GmnI kepada filosofinya dasar GmnI sebagai organisasi
kerakyatan, organisasi Kader, GmnI sebagai komando dalam membangun Bangsa"
ujar Twedy saat ditemui di sela-sela pembukaan Kongres Kerakyatan GmnI XVIII di
Bumi Bung Karno, Blitar Jawa Timur (1/6).
Dalam 2 tahun terakhir GmnI telah berupaya untuk memodernisasi
GmnI sebagai sebuah organisasi modern dengan prinsip-prinsip idiologi.
"Pembenahan Infrastruktur, penguatan idiologi dan basis, itu yg kita
lakukan" ungkap Tweedy.
Dalam
kurun waktu dua tahun itu pula bertambah 14 cabang GmnI di beberapa daerah yang
sebelumnya belum ada GmnI-nya. Diantaranya Provinsi Aceh 2, Kalteng 3, Kalsel
1, Sulsel 2, sulteng 1, NTB 2 dan beberapa di Pulau Jawa. Dalamkongres XVIII
Presidium GmnI menawarkan dua konsepsi. Pembangunan Indoensia masa depan dalam
persefektif GmnI dan Konsepsi membangun GmnI mulai dari nasional, Provinsi
Cabang sampai di komisariat dalamkurun waktu 25 tahun kedepan.
Labels:
Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
,
slider



