Suara Marhaen: Kongres Kerakyatan XVIII GmnI
Headlines News :

Latest Post

Showing posts with label Kongres Kerakyatan XVIII GmnI. Show all posts
Showing posts with label Kongres Kerakyatan XVIII GmnI. Show all posts

Ziarah di Makam Bung Karno, Wujud Kerukunan Beragama di Indonesia

Written By Unknown on Thursday, June 6, 2013 | 3:18 AM

suaramarhaen.com. Blitar. Makam Presiden Republik Indonesia pertama yang terletak di Jalan Ir. Soekarno memang sering dikunjungi masyarakat yang hendak berziarah. Namun jumlah masyarakat tampak meningkat di bulan Juni. Seperti yang terlihat pada hari ini (2/6), masyarakat hingga membuat rombongan hanya untuk sekedar berziarah di makam Proklamator Indonesia ini. Bung Karno meninggal pada tgl 21 Juni 1970 di Jakarta. Menurut penuturan pak Suwanto Juru Kunci Makam Bung Karno sebelumnya areal makam bung karno ini merupakan areal pemakaman umum biasa. 

Namun tidak lama sebelum bung karno meninggal, beberapa makan yg terletak di sekitar makam ibu bung karno dipindahkan. Awalnya bung Karno ingin dimakamkan di Jakarta atau di Bogor, namun pemerintah orde baru pada saat itu menolak dan memutuskan untuk memakamkan sukarno di sebelah makam ibunya. Sedangkan untuk makam ayahanda bung karno merupakan makam pindahan pada tahun 1978 yang sebelumnya telah dimakamkan di Jakarta.

Areal makam Bung Karno mulai di benahi pada 21 Junii 1978 dan di resmikan pada 21 Juni 1979. Telah dilakukan beberapa kali pemugaran pada areal makam bung karno diantaranya pada juni 2001 dan terakhir oktober 2005.

Doa dari berbagai agama berkumandang di makam bung karno,tepat di nisanya. Islam, Kristen, hindu dan lainnya, peziarah berdoa dengan cara mereka masing-masing tanpa mengganggu peziarah lainnya. "Masyarakat yang berziarah seolah melambangkan Indonesia. Berasal dari hampir seluruh pelosok Indonesia dengan cara berdoa yang tentu sangat berbeda. Namun itu tidak pernah mengganggu peziarah lainnya" pengalaman menarik menurut Pak Suwanto yang beliau alami di makam bung karno. (nna)
 

Kongres GmnI Diwarnai Aksi Protes, Ditengah - Tengah Warga Blitar

suaramarhaen.com, Blitar. Hari ke lima dalam jadwal Kongres GmnI (5/6) membahas mengenai calon bakal tempat kongres dan rakornas berikutnya. Dalam perjalanan sidang, beberapa peserta yang beragama muslim meminta sidang di skors. Namun terjadi pro-kotra atara peserta sidag lainnya. Beberapa peserta mengatakan pimpinan sidang terkesan tarik ulur. Walau akhirya pimpinan sidang memberikan skors namum panitia lokal tidak memberikan akses keluar kepada peserta dan meminta peserta untuk sholat di tempat yang telah di persiapkan. Karena itulah beberapa delegasi mulai ribut dan meminta akses untuk keluar.

Sedangkan diluar, mulai pukul 19.00 WIB areal Istana Gebang Mulai dipadati warga blitar dan sekitarnya untuk meyaksikan pagelaran wayang kulit Ki Koeswono. Warga juga mulai menunggu di depan Gerbang masuk arena Kongres. Beberapa kader GmnI yang di luar dan mendengar keadaan di dalam mulai mencoba untuk masuk. Mereka melihat ada ketidak konsitenan panitia. Karena untuk masuk ke area sidang perlu “ID” card, dan peserta telah ditentukan. Namun beberapa kader yang diluar melihat banyak orang didalam yang tidak menggunakan tanda pengenal serta panitia lokal dan polisi bebas keluar masuk. Sedangkan kader GmnI sendiri tidak diijinkan untuk masuk. Terjadi keributan dengan panitia lokal dengan 'rombongan liar' kader GmnI yang mengakibatkan aksi dorong-dorongan.

Kader GmnI yang melakukan aksi protes juga meneriakan penolakan terhadap kosepsi Empat Pilar berbangsa. “malu kita dirumah bung Karno membahas tentang empat Pilar” teriak salah seorang kader di tengah aksi. Empat pilar tidak sesuai dengan spirit perjuangan dan ideologi bagsa karena menempatka Pancasila sejajar dengan tiga Pilar lainnya, diantaranya Bhineka Tunggal ika da NKRI. Pancasila itu dasar NegaraFilosofi Negara Indonesia. “Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi” kutipan pidato 1 juni bung Karno saat mencetuskan Pancasila sebagai filosofi bangsa. Itulah dasar mengapa empat pilar diprotes oleh kader GmnI.

Kader yang diluar mencoba untuk mematikan jenzet yang ada diluar arena kongres agar persidangan bisa dihentikan. panitia yang melihat mencoba menggagalkan dengan melempar batu yang mengakibatkan aksi saling lempar antara panitia dan kader.
Beberapa kader yang ikut dalam aksi tersebut diantaranya berasal dari Medan, jakarta, bandung, malang, malang raya, surabaya, balikpapan, palangkaraya, dll.
"Malu sebenarnya karena itu rumah bung karno. Tpi ketika ada ketidakadilan, maka tetap kita harus berontak." Ujar salah satu kader yang tidak ingin disebutkan namanya.

Beberapa warga yang melihat kejadian tersebut mengaku kecewa terhadap sikap mahasiswa. "Yah, niatnya nonton wayang kok malah ada mahasiswa ribut-ribut. Malu lah seharusnya mereka berbuat seperti itu di tanah bung karno." Kata warga yang sedang berbincang-bincang. (nna)


Bulan Juni, Berkah Buat Pedagang Oleh – oleh Kota Blitar

Written By Unknown on Tuesday, June 4, 2013 | 1:15 AM

suaramarhaen.com, Blitar.Bulan Juni juga menjadi berkah tersendiri bagi pedagang oleh-oleh yang ada di kota Blitar. Selain meningkatnya jumlah peziarah di makan Bung Karno juga diselenggarakan beberaparangkaian acara di bulan Juni tahun ini. Dimulai dari Grebeg Pancasila, peringatan lahirnya Bung Karno dan haul karno Bung yang semakin meramaikan kunjungan di Kota Blitar.
Berdasarkan pantauan tim redaksi suaramarhaen.com hampir semua jenis oleh-oleh dari Blitar berupa pasar tradisional. Selainpasar kios kios masyarakat di sekitaran jalan Ir. Soekarno juga dijajakan oleh oleh khas Blitar seperti,kaos, pernak pernik  dan batik. Menurut Ibu Nining salah seorang pedadang kaos di pasar oleh oleh dekat makam bung Karno, hampir setiap hari dipadati pengunjung baik dari Blitar maupun luar kota. Dengan meningkatnya kunjungan maka pendapatan pedagang oleh-oleh di blitar juga meningkat.
Ibu nining yang sudah berjualan sejak lulus SMA  ini menuturkan, kaos bergambar Bung Karno paling laris diburu oleh pengunjung.harganya pun bervariasi, untuk kaos dewasa berkisar antara Rp.35.000-Rp.45.000, cukup terjangkau untukmasyarakat dan kantong mahasiswa. “kaos bergambar bung karno paling lahir, selain itu gantungan kunci bergambar bung karno juga diminati oleh pengunjung yang hadir’ ujar bu nining di sela kesibukannya berjualan.

Eksistensi pasar tradisional sangat baik di Blitar, hamper tidak ditemui pasar modern yang menjual oleh-oleh. Semua dikelola oleh masyarakat  yang didukung oleh pemerintah daerah.  Indomaret, Alfamart dan toko modern sejenis hanya ada beberapa dan itupun jauh dari pasar tradisional. Hal ini membawa keuntungan tersendiri bagi masyarakat, mengelola potensi pariwisata dengan mandiri. Lapangan pekerjaan tersedia luas dan masyarakat mampu berdikari. Kebijakan pemerintah yang sangat mendukung  majunya ekonomi kerakyatan dengan mengeluarkan perda no Perda No 11 Tahun 2012 tentang pasar desa sehingga kapitalisasi dengan penguasaan sector ekonomi oleh pemodal bisa di minimalisasi. Perekonomian sepernuhnya dikuasai oleh rakyat. Trisakti, ajaran bung karno sangat di terapkan di kota ini. Tidak hanya oleh pemerintahan, menjelang bulan Juni di beberapa sudut pasar juga terdengar obrolan tentang bung Karno. Selain figur juga ajaran yang mendarah daging di hati masyarakat. (KD)

"Sarinah"Awal Kebudayaan Manusia

suaramarhaen.com, Blitar. Sarinah, sosok perempuan yang menjadi simbol dari perempuan Indonesia. Dia bersaudara kembar, yaitu sarinah dan sainah. Sarinah sendiri adalah pengasuh Bung Karno dan sainah adalah juru masak keluarga Bung Karno. Perempuan dan laki-laku bagai sayap burung, jika satunya tidak ada, maka burung itu tidak bisa terbang. Itu sepenggal kalimat yg tertulis di Buku Sarinah, salah satu karya bung Karno yang menceritakan tentang perempuan dan pergerakan.
Perempuan itu wadah, bisa menampung segala sesuatu. Per-empu-an, empu seorang  yang ahli. Pada dasarnya perempuan lebih cerdas dari laki-laki. "Kebudayaan lahir dr perempuan, membuat keluarga menikmati rasa "enak". Membuat bumbu. Selain itu perempuan juga melahirkan kebudayaan bercocok tanam" ujar Pak Bambang Mardiyono saat bercerita di Istana Gebang, rumah Bung Karno (4/6).
Laki-laki pergi berburu, mengumpulkan bahan makanan. Dan perempuan yang mengolahnya. Dari sanalah. Ketika kaum laki pergi berburu disana perempuan mulai menanam benih tanaman. Kebudayaan itu lahir dan berakar dari bercocok tanam atau agraris.

Lebih lanjut beliau yg akrab dipanggi Pak Gudel itu bercerita. Blitar adalah tempat yang berkharisma. Tungku, api dan abu perjuangan bangsa dan peradaban nusantara ada di Blitar. Istana Gebang adalah Tungku perjuangan, lahirnya seorang putra Bangsa yang membawa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan. Perpustakaan Bung Karno di blitar adalah api perjuangan. Disana tersimpan pemikiran-pemikiran Bung Karno untuk Bangsa Indonesia. Makam Bung Karno adalah abu dari perjuangan Indonesia. "Tak ada artinya berziarah ke makam Bung Karno jika tidak mendalami pemikirannya. Warisi apinya bukan abunya" ujar  Pak Gudel. "Sarinah, Siapa yang anti Indonesia akan hancur" tutupnya sambil berfoto bersama di ruang tamu istana Gebang.

“Istana Gebang” Spirit Perjuangan Bung Karno

Written By Unknown on Sunday, June 2, 2013 | 12:29 PM

suaramarhaen.com, Blitar. Tempat tinggal orang tua Bung Karno yang terletak di Jalan Sultan Agung No 59, Sananwetan - Blitar atau yang terkenal dengan sebutan Istanah Gebang hari ini (2/6) tampak sangat ramai. Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) tampak memenuhi areal sekitarnya. Sebelum agenda Kongres di mulai, beberapa kader yang bukan delegasi Kongres menyempatkan diri memperdalam sejarah mengenai Istanah Gebang ini.
Ditemani oleh pak Bambang Mardiyono yang ditunjuk sebagai salah satu pengelola tempat tersebut beberapa kader GmnI tampak menyimak  sejarah mengenai Bung Karno. Bapak yang akrab di panggil Mbah Gudel ini bercerita bahwa Ayahanda Bung Karno pada tahun 1884 membeli Rumah itu dari seorang Belanda yang bekerja sebagai pegawai kereta api . Bung Karno sendiri tidak memiliki waktu yang lama tinggal di rumah tersebut. Hanya ketika liburan sekolah padamasa remajanya dan ketika telah menjadi presiden hanya datang ketika menengok Ibundanya.
Rumah ini ditetapkan sebagai museum dan dikelola oleh pemerintah kota sejak 7 Januari 2012 setelah sebelumnya merupakan sebuah cagar budaya yang dikelola oleh keluarga Bu Sukarmini. Sempat sebelum ditetapkan sebagai Museum pihak keluarga berkeinginan menjual rumah tersebut kepada pihak swasta. Namun karena statusnya sebagai Cagar Budaya tentu akan menyalahi Undang-Undang Cagar Budaya maka rumah tersebut hanya dapat dijual ke Pemerintah.
Menurut cerita Mbah Gudel, tidak banyak kejadian penting yang terjadi di Istana Gebang. Hanya saja rumah itu seolah memiliki kesakralan sendiri karena dari sana terlahir tokoh besar seperti Bung Karno. Beberapa masyarakat juga mempercayai kesakralan area Istana tersebut. Seperti dengan air dari Sumur Tua  yang dipercayai dapat menyembuhkan penyakit hingga api dari tungku dapur.Di halaman belakang rumah tersebut dulu Supriyadi menemui Bung Karno untuk mengatakan bahwa pemuda ingin memberontak Jepang. Di Istana itu juga Bung Karno pernah menjadi dalang dalam pagelaran wayang kulit. Rumah tersebut juga dikatakan sebagai pemersatu Bangsa. Karena dulu Bung Karno pernah mempertemukan tokoh dari sabang sampai merauke dalam suatu acara.

“Saya harap dari dilaksanakannya Kongres GmnI XVIII di Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja ini adik-adik GmnI dapat tetap menghadirkan spirit dari Perjuangan Bung karno dulu dan bisa berbuat untuk Bangsa dan Negara Indonesia ini” Ujar Mbah Gudel diakhir ceritanya.(nna)

Pembukaan Kongres Kerakyatan XVIII GmnI

Written By Unknown on Saturday, June 1, 2013 | 10:32 AM


Anak Rakyat, Dari Rakyat Untuk Amanat Penderitaan Rakyat
Suaramarhaen.com, Blitar. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) melaksanakan Kongres pada 1-5 Juni 2013.  Kongres ke-XVIII ini bertempat di Blitar yang sudah dimandatkan sebelumnya dalam Kongres di Balikpapan.
“Dikatakan Kongres Kerakyatan untuk merumuskan keinginan kawan-kawan blitar yang ingin agar Kongres di Bumi Bung Karno ini berbeda dari kongres sebelumnya. Senada dengan apa yang diamanatkan Bung Karno dalam konverensi besar GmnI di Kaliurang dalam pidatonya agar mahasiswa dapat duduk bersama-sama dengan rakyat” Ujar Bernad Ketua Badan Pekerja Kongres XVIII GmnI ketika ditemui usai acara pembukaan. Melihat situasi kebangsaan kita yang belakangan ini berada pada tahap titik degradasi moral yang semakin rendah. Dimana moral anak bangsa harus segera dibenahi. Penemuan kembali semangat kebangsaan yang semakin menipis.
Agenda Kongres anak rakyat, dari rakyat untuk amanat penderitaan rakyat adalah Persidangan pengesahan peserta, jadwal dan tata tertib sampai dengan pemilihan Presidium yang baru. Kemudian ada juga persidangan komisi yang akan membahas permasalahan politik, program-program, dan organisasi di GmnI.
Dalam Kongres kali ini, dipersembahkan hasil gotong royong beberapa seniman dari Kota Blitar yaitu Lukisan Bung Karno terbesar di dunia. Dan dimeriahkan dengan pasar murah serta festival hiburan rakyat.
Pada pembukaan diundang pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Blitar, pemerintah Kota Blitar, Pengurus kota alumni GmnI, masyarakat kota Blitar dan sekitarnya. Sedangkan peserta Kongres yang terdaftar hingga 1 juni ada 90 cabang dari 112 cabang yang mengirimkan 3 orang delegasi. Sedangkan ada beberapa kader yang bukan delegasi juga hadir untuk meramaikan kongres.
Acara pembukaan Kongres Kerakyatan GmnI ini di buka oleh Dr. H. Soekarwo, S.H, M.Hum, Gubernur Jawa Timur yang juga merupakan Ketua Persatuan Alumni GmnI Pusat. Dalam sambutannya Gubernur yang akrab dipanggil Pak De Karwo ini berpesan agar hasil Kongres bukan merupakan suara liberal melainkan benar-benar hasil Musyawarah Mufakat. “Capai musyawarah mufakat sesuai dengan pancasila. Bukan dengan suara terbanyak. Masak 1 orang waras harus tunduk pada 9 orang gila” Ungkap beliau. (nna)

Modernisasi GmnI, Penguatan Idiologi Marhaenisme


Pembukaan Kongres Kerakyatan XVIII gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
suaramarhaen.com, Blitar. Gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GmnI) merupakan salah satu organisasi basis Nasionalis yang beridiologikan Marhaenisme. Organisasi mahasiswa yang terbentuk pada tahun 1959 silam telah melahirkan banyak pemimpin di Indonesia. Pejuang Pemikir - Pemikir Pejuang moto dalam gerakan untuk menuju sosialisme Indonesia.
Menurut Twedy Noviadi Ginting, Ketua Presidium Pusat GmnI, 1 Juni 2013 momentum untuk mengembalikan GmnI kepada filosofi dasar organisasi. "Kami ingin mengembalikan GmnI kepada filosofinya dasar GmnI sebagai organisasi kerakyatan, organisasi Kader, GmnI sebagai komando dalam membangun Bangsa" ujar Twedy saat ditemui di sela-sela pembukaan Kongres Kerakyatan GmnI XVIII di Bumi Bung Karno, Blitar Jawa Timur (1/6).
Dalam 2 tahun terakhir GmnI telah berupaya untuk memodernisasi GmnI sebagai sebuah organisasi modern dengan prinsip-prinsip idiologi. "Pembenahan Infrastruktur, penguatan idiologi dan basis, itu yg kita lakukan" ungkap Tweedy.
Dalam kurun waktu dua tahun itu pula bertambah 14 cabang GmnI di beberapa daerah yang sebelumnya belum ada GmnI-nya. Diantaranya Provinsi Aceh 2, Kalteng 3, Kalsel 1, Sulsel 2, sulteng 1, NTB 2 dan beberapa di Pulau Jawa. Dalamkongres XVIII Presidium GmnI menawarkan dua konsepsi. Pembangunan Indoensia masa depan dalam persefektif GmnI dan Konsepsi membangun GmnI mulai dari nasional, Provinsi Cabang sampai di komisariat dalamkurun waktu 25 tahun kedepan.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Suara Marhaen - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger